Peringatan HARSIARNAS 1 April 2019 di Banjarmasin Kalimantan Selatan
Dalam album sejarah Indonesia, dituliskan peristiwa deklarasi Harsiarnas tahun 2009 di Solo, lalu kemudian setiap tahun diperingati stakeholders penyiaran sebagai Harsiarnas mempunyai benang merah dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Pada kalimat lain, spirit Harsiarnas diinspirasi dari peristiwa sejarah penyiaran tanah air. Hari Wiryawan, salah seorang tokoh penyiaran Indonesia, melalui bukunya Mangkunegoro VII & Awal Penyiaran Indonesia (2011), menuliskan bahwa pada 1 April 1933 KGPAA Mangkunegoro VII menggagas didirikannya Solosche Radio Vereeniging (SRV) yang menjadi radio pertama milik bangsa Indonesia.
Tatkala mendirikan SRV, Mangkunegoro menyumbangkan uangnya sebanyak 600 gulden untuk membeli pemancar dan memberikan sumbangan tanah seluas 6000 meter persegi bagi pendirian SRV. Penggalan sejarah Mangkunegoro dan SRV menjadi gambaran sepenuhnya pengorbanan besar ditunjukkan kaum pribumi dalam mendirikan penyiaran secara mandiri. Media penyiaran dijadikan alat perjuangan bangsa.
Sejarawan Indonesia, Asvi Warman Adam (2010), melalui tulisannya Mangkunegoro dan SRV, pernah menulis bahwa SRV menyiarkan berita, program agama dan kebatinan, pembacaan dongeng anak-anak, petunjuk praktis bagi pendengar (aneka masakan, bordir, dan olah raga) serta musik tradisional. Klenengan atau gamelan dan keroncong sering juga diperdengarkan radio ini, di samping wayang kulit purwo. Memutar lagu tradisional dan menolak musik Barat merupakan perlawanan budaya terhadap penjajah di samping menumbuhkan kecintaan khazanah kesenian lokal.
